anak
Wacana Berbeda dari Biasanya di Lebaran 2026
Kacang buatanku yang enak sekali
Menurut keputusan pemerintah, Lebaran tahun ini jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026. Pagi-pagi pukul 06.00 aku dan ibuku sudah bergegas pergi ke mushola terdekat untuk melaksanakan Sholat Ied. Selanjutnya, kami bersiap-siap untuk menyambut tamu dan bersalam-salaman. Pukul 08.15 aku sudah bergeser ke rumah tetangga cum Bulek dan Paklekku. Lalu seperti tahun lalu, bersama dengan tiga sepupuku dari keluarga Bapak yang masih lajang—semuanya laki-laki, kami berjalan dari satu rumah ke rumah lain di sekitar rumah kami yang biasa disebut area pengkolan. Beberapa bilang aku seperti dikawal ‘joko telu’. Hahaa.
FYI, ketiga sepupuku ini, yang pertama bekerja di Sumatera Utara sebagai seorang teknisi di pelabuhan. Yang kedua, bekerja di sebuah pabrik sebagai QC dan beberapa waktu lalu sudah bertunangan. Yang ketiga, adik dari sepupu yang kedua, masih kuliah di jurusan perawat di Semarang. Ketiganya berusia lebih muda dariku. Dus, akulah yang paling ditunggu dan kerap ditanya, ‘kapan nikah?’ oleh banyak orang. Dan ya, lebaran seperti ini bertemu tetangga dan saudara yang jarang sekali berjumpa pastinya pertanyaan atau topik pembahasan yang keluar adalah seputar sekolah di mana, kerja di mana, kerjanya ngapain, dan kapan nikah. Pertanyaan terakhir terkadang disertai nasehat agar tidak lama-lama menunda mengingat umur sudah ‘tua’.
Pembahasan itu diangkat bahkan ketika kita baru sampai di rumah pertama, setelah kami saling mengunjungi rumah masing-masing. Saudaraku yang bekerja di Sumut dan aku yang sekarang di Jakarta, mendapat nasehat untuk segera menikah dari ibu tuan rumah. Aku yang sudah menyetel mode ‘lelah tapi tidak marah’ tiap orang berkomentar tentang hal itu, sudah pasang senyum lebar sambil menjawab, ‘nggih, pandongane mawon, hehehe.’
Tapi kali ini kami beruntung. Ada anak sulungnya yang membela kami. Dia perempuan yang seumuran dengan kakak keduaku, tapi jarang sekali di rumah sejak menikah dan hidup di Solo. Dia tanya tentang pekerjaanku. Biasanya orang tidak paham kalau aku sudah menjawab. Dan menasihati untuk mencari kerja di dekat rumah saja. Tapi dia tidak. Dia justru mengerti, apa itu NGO, apa itu WALHI, bahkan ketika aku bercerita sedang menempuh Magister Sosiologi di UI dia nampak senang, karena suaminya juga sangat menyukai sosiologi. Aku seperti menemukan harta karun—satu-satunya orang yang bisa nyambung denganku di kampung ini.
Karena tidak mengerti apa yang kami bicarakan, ibunya membelokkan wacana ke seputar ‘kapan nikah’ dan menghimbau agar kami tidak berlama-lama sendiri. Si kakak ini lagi-lagi ‘nimbrung’. Memang ada juga saudaranya laki-laki yang belum menikah. Dia bahkan lebih tua dariku. Tapi si kakak tidak mau memburui adiknya. Menurut dia zaman sekarang orang tidak harus cepat nikah, tidak nikah juga gapapa. Dia banyak bertemu orang asing yang memilih menikah di usia matang atau bahkan tidak menikah sama sekali karena ingin menikmati hidup dan travelling. Ibunya sedikit emosi karena menurut dia tetap saja orang butuh berkeluarga. Dia mencontohkan bagaimana bibinya kesepian karena tidak juga menikah sampai tua. Si kakak berbeda pendapat. Katanya, ‘dia kesepian tapi bisa Umroh tiap tahun, jalan-jalan ke Eropa, ya gapapa dong. Hahaha.’ Kami pun berpamitan dengan mood yang cukup baik. Dalam hati aku berterima kasih sekali kepada si kakak.
Di rumah-rumah tetangga lainnya pembahasan masih seputar hidup kami dan nasehat serupa. Tidak apa-apa. Kali ini mode ‘lelah tapi tidak marah’ ku akan on seharian. Obrolan menarik terjadi saat kami tiba di rumah terakhir, rumah saudara kami yang lain. Di sana ada Paklek Bulek dan dua sepupuku lain yang usianya lebih muda dariku. Sepupu yang pertama laki-laki bekerja di sebuah leasing dan content creator, dan yang kedua perempuan, masih kuliah. Awalnya seperti biasa, Paklek bertanya seputar apa saja yang dikerjakan aku dan sepupuku. Dia cukup puas dengan jawaban sepupuku yang bekerja di pelabuhan, sementara denganku dia justru berkomentar, ‘kerjo ra cetho (pekerjaan tidak jelas)’. Aku iyakan saja komentar dia sambil tertawa.
Namun, meski Bapaknya bilang begitu, anak laki-lakinya aka sepupuku justru tertarik dengan pekerjaanku. Menurut dia itu pekerjaan yang membutuhkan otak, butuh berpikir. Aku pun melanjutkan cerita tentang apa yang pernah aku kerjakan dalam mendampingi komunitas dan melahirkan kajian, dan bagaimana respons pemerintah terhadap kritik dan rekomendasi yang kami buat. Sampai ke hal-hal yang mengancam para aktivis yang bersuara, seperti penyiraman air keras kepada aktivis KontraS, Andrie Yunus, dan yang lainnya. Para pelaku yang sudah ditangkap tapi tidak mengusut sampai dalangnya, membuat kami geram dengan aparat. Sepupuku yang lain, terutama yang bekerja di pelabuhan dan pabrik juga turut serta dalam diskusi kami. Kami bahkan sampai pada wacana geopolitik Trump dan kebijakan Prabowo yang membuat masyarakat kecewa.
Yang paling menarik adalah pembahasan soal program MBG. Sebenarnya obrolan tentang ini sudah aku mulai dari saat ada buka bersama keluargaku. Saat itu, kakak iparku cerita tentang terjadinya protes masyarakat akibat digunakannya gedung serbaguna (GSG) milik desa untuk jadi dapur SPPG. Masyarakat menolak karena GSG seharusnya tidak disewakan untuk proyek jangka panjang karena pasti akan dibutuhkan warga sewaktu-waktu ada bencana atau kegiatan sosial dan olahraga masyarakat.
Obrolan soal MBG juga menguar saat aku berkunjung ke rumah sepupu kedua dan berbincang dengan Paklekku yang juga bekerja di Jakarta. Menurut dia, mekanisme MBG yang dikelola dapur dengan ribuan makanan setiap hari tidak efektif, bahkan cenderung tidak memenuhi tujuan utamanya: memberi gizi ke anak karena makanan jadi tidak segar/mudah basi, dan akhirnya dibuang begitu saja. Dia lebih setuju jika dana MBG diserahkan ke orang tua si anak untuk dibuatkan bekal makanan yang sehat, atau dikelola oleh sekolah sehingga porsinya lebih masuk akal dan mudah memantau gizi anak. Aku mengangguk setuju dengan Paklek, dan menekankan pentingnya meminimalisir potensi korupsi dalam proyek ini.
Di rumah saudaraku yang terakhir, obrolan menjadi seru karena Bulekku adalah seorang guru di sebuah sekolah menengah. Bulekku sangat bersemangat ketika kita membahas program MBG yang penuh dengan korupsi. Dia bercerita tentang banyaknya makanan yang tidak dimakan anak-anak karena alasan tidak suka dan tidak enak. Memang dia menyayangkan, porsi makanan yang diterima sangat sedikit dan tidak segar. Tidak sesuai dengan budget yang dipakai, 15ribu per porsi disulap jadi 7ribu per porsi. Dia sebenarnya setuju saja kalau yang mengelola MBG adalah para tukang masak di kantin sekolah yang jumlahnya 4-6 warung. Tapi, pasti sekolah tidak mau mengelola karena ini bukan anggaran pendidikan.
Kritik terhadap kebijakan Prabowo tidak hanya soal MBG tapi juga koperasi desa dan sekolah rakyat. Bagaimana bisa kita mengimpor ribuan pick up dari negara lain tanpa mempertimbangkan produk dalam negeri? Bagaimana bisa pemerintah mengeksekusi proyek tanpa ada perencanaan matang dan koordinasi yang jelas antar Kementerian/Lembaga? Lalu soal sekolah rakyat, bagaimana bisa pemerintah membangun sekolah tanpa memperhitungkan keberadaan sekolah yang sudah ada dan kerap kekurangan murid? Kenapa tidak dalam bentuk beasiswa saja supaya bisa bersekolah secara gratis? Kenapa harus dieksklusi jadi ‘sekolah rakyat’ seperti itu?
Pertanyaan-pertanyaan ini bermuara pada kesimpulan bahwa rezim ini tak benar-benar memikirkan nasib rakyatnya. Hanya mau mengambil untung dari proyek-proyek bombastis yang membebani anggaran negara yang mengambil pajak dari rakyat. Sejenak aku berpikir, kondisi negara seperti ini ternyata bisa membuat Lebaran yang biasanya membahas wacana individu: sekolah, kerja, nikah, menjadi diskusi tentang bobroknya pemerintah mengelola negara. Aku jadi berpikir kalau nanti ada lagi yang tanya kapan nikah untuk menjawab: nunggu rezim Prabowo-Gibran bubar. Hehehe.

0 Comments